Running Text

ASURANSI GENERALI INDONESIA MEMBERIKAN 2 PERLINDUNGAN SEKALIGUS YAITU PERLINDUNGAN KESEHATAN SEKALIGUS PERLINDUNGAN INVESTASI DARI KRISIS EKONOMI

Minggu, 15 Juni 2014

Asuransi Penyakit Kritis??? Jangan Salah Pengertian 1

Jakarta -Yang baca tentang polis asuransi dijamin deg-degan baca tentang asuransi tambahan yang dikenal dengan Critical Illness Insurance, atau terjemahan yang sering dipakai (dan mengakibatkan salah kaprah) adalah asuransi Penyakit Kritis.

Nah, menyambung dari artikel minggu lalu di blog ini bahwa ternyataaaaa buat kamu-kamu yang sudah beli asuransi Critical Illness akhirnya menyadari bahwa sering terjadi salah kaprah. Yes, salah lagi.

Sudah unitlink-nya sering salah beli, sekarang ditambah asuransi tambahan (rider) Critical Illness-nya salah. Tapi, sebenarnya di mana letak salahnya? Mari kita bahas bersama.

Apabila dilihat dari tulisan saya di artikel minggu lalu, yang namanya Critical Illness itu artinya Bukan Penyakit Kritis, mengapa? karena tidak ada penyakit yang disebut atau bernama kritis.

Silahkan ditanyakan ke dokter langsung untuk konfirmasi hal ini. Jadi, apa yang dimaksud dengan kritis? Adalah kondisi di mana kita sudah kena suatu penyakit dengan kondisi yang parah, harapan hidup tipis, biasanya sebelum ajal menjemput.

Jadi kalau mau tahu apa saja yang di-cover alias dilindungi dari Critical Illness ini, kuncinya adalah ada di dalam buku polis Anda, oleh sebab itu diwajibkan membaca polis Anda karena trik dan rahasianya terletak di dalam polis.

Sedikit contoh yang mudah untuk dilihat dan dipelajari dan yang paling mudah diidentifikasi adalah sakit kanker. Di dalam kebanyakan polis Critical Illness biasa disebutkan bahwa pembayaran klaim baru bisa dilakukan apabila Anda sudah tervonis terkena penyakit kanker yang sudah termasuk dalam kategori Tumor Ganas yang menyebar

Usut punya usut, ketika ditanyakan ke beberapa dokter, bahwa yang dimaksud dengan kata tumor ganas menyebar yang disebutkan di dalam polis tersebut adalah kanker yang biasanya termasuk di dalam kategori kanker stadium 4.

Dengan kata lain, kalau Anda baru terdiagnosa Tumor jinak atau bahkan Kanker stadium 1 dalam kasus asuransi Critical Illness regular berarti klaim Anda tidak akan dibayar duit anda tidak dibayar alias tidak keluar, karena masih belum masuk definisi yang tertera di polis. Oleh sebab itu sebaiknya berhati-hatilah.

Dengan kata lain, ketika anda sudah mempunyai asuransi Critical Illness sekalipun dan anda baru terkena diagnose stadium awal (dalam hal ini contohnya penyakit Kanker), karena klaim asuransi Anda tidak dibayar, berarti Anda harus mempersiapkan dana sendiri untuk membiayain pengobatan penyakit Anda, atau bisa juga dengan menggunakan asuransi kesehatan.

Nah, ketika mengetahui bahwa asuransi Critical Illness memiliki kekurangan dan melihat kondisi di atas, maka kemudian perusahaan asuransi membuat produk asuransi baru untuk Critical Illness ini yang 'katanya' bisa klaim lebih cepat, namanya Early Critical, seperti apa itu? Akan dibahas di tulisan seri berikutnya.

Sabtu, 07 Juni 2014

Kisah Untuk Kita Renungi Bersama



Kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV).

Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati. Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.” “Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”. “Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Hidup adalah Perjuangan tanpa henti-henti, tidak usah kau tangisi hari kemarin. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah LUAR BIASA ini.


7 Pentingnya Asuransi

Selamat Pagi, Tahu ga kalo menurut laporan lembaga ekonomi internasional yang bekerja secara independen, Indonesia termasuk salah satu negara yang underinsured! Bayangin dong!

Underinsured artinya adalah Indonesia merupakan negara yang penduduknya memiliki atau dukungan dengan asuransi masih SANGAT rendah! Padahal Indonesia kan salah satu negara konsumtif. Jual gadget/produk fashion dgn harga mahal saja laku, masa asuransi ga laku? >.<

Sebuah situs manajemen keuangan memberikan kultwit akan pentingnya asuransi. Simak aja nih gan. Oh ya, kalau suka jangan lupa di rate bintang 5 ya


1. Sebenarnya, tahukah Anda seberapa pentingnya memiliki asuransi? Ini merupakan bentuk investasi yg krusial dan penting untuk menjaga Anda.

2. Asuransi dpt menjamin saat kita kehilangan pekerjaan, properti, pemasukan, kesehatan secara fisik dan juga hilangnya kehidupan. asuransi

3. Sebagian besar orang mengabaikan asuransi, terutama bagi mereka yang merasa muda dan merasa tidak akan terkalahkan. Pendapat mereka salah!

4. Sesungguhnya, diwaktu inilah dimana asuransi itu dapat dijangkau atau dibeli. Janganlah menganggap bahwa asuransi itu adalah "dead money"

5. Anda perlu tahu bahwa setiap perusahaan asuransi memiliki value dan kebijakan yg berbeda, maka berkonsultasilah dengan agen asuransi

6. Agen asuransi yang bagus tidak memaksa anda dgn memberitahu segala macam produk yang ada. Sebaliknya, merancang rencana hidup Anda dgn baik

7. Dengan pilihan yg baik, maka di saat anda berumur >60thn dan tdk bisa membayar lg premi Anda, Anda telah mempunya nilai akumulasi yang bagus

Sudah mengerti kan? Nah, jaga dan lindungi diri Anda agar tidak menderita dgn dana yg terbatas!

Itung-itungan Cash Flow Keluarga

Kata perencana keuangan favorit saya, Prita Gozie, ikuti saja formula ZAPFIN untuk mengatur keuangan pribadi. Baik untuk yang masi single, ataupun berkeluarga. Kayak apa?

ZAPFIN = Zakat – Asuransi – Present Consumption – Future Spending – Investasi. Jadi, itung semua pemasukan bersih (setelah dipotong pajak) lalu bagi sesuai pos-nya. Bayar zakat dulu, biar tenang. Berbagi dulu. Baru beresin lainnya. Mulai dari asuransi, pengeluaran rutin bulanan, dana masa depan lalu investasi. Masalahnya, cukup ga gajinya buat menuhin semua? :D
Ada rumus proporsi yang saya suka untuk aturan cash flow, terutama jika sudah berkeluarga dan punya anak. Mau tak mau, suka ga suka, harus PUNYA DANA DARURAT. Seperti apa proporsinya?
  • 10% untuk berbagi ke orang lain, zakat, dll.
  • 20% untuk cicilan utang
  • 20% untuk investasi dan tabungan masa depan
  • 50% untuk kebutuhan rutin
Cara paling mudah ngecek-nya ialah:
Tulis semua kebutuhan rutin kita per bulan. Beli apa saja, cicilan utang apa saja. Liat proporsinya. Kalau 50% gaji kita lebih kecil ketimbang total belanja dan cicilan utang per bulan, ya berarti kita hidup berlebihan. Besar pasak daripada tiang. 
Let’s say, gaji Rp5 juta di Jakarta, single. Berarti biaya bulanannya tidak boleh lebih dari Rp2.5 juta. Masuk akal ga?
Kalau ngekos, berarti pilih kost-an harga Rp800 ribu per bulan.  Bisa ga? Jadi biaya bulanan tersisa Rp1.7 juta. Bagi saja 30 hari, berarti per hari rata-rata Rp55 ribuan saja. Makan siang dimana? Sarapan apa? Transportasi gimana?
Kalau nyicil motor Rp500 ribuan per bulan, berarti ongkos hidup  tinggal Rp1.2 juta saja. Artinya Rp40 ribu per hari. Bisa ga?
Kalau kurang, berarti tambah penghasilan. Bukan dengan mengurangi jatah zakat, asuransi dan tabungan. Sebab, kalau nunggu penghasilan besar baru maksa zakat, nabung dan beli asuransi, ga bakal kejadian. :D
Kalau berkeluarga, misal pemasukan Rp15 juta. Berarti ongkos bulanan Rp7,5 juta. Cukup ga? Anaknya berapa? Rumah kontrak? Atau cicil KPR?
Kalau kontrak rumah, misalnya Rp2 juta per tahun, sisa tinggal Rp5,5 juta. Kalau punya anak satu, ya bagi saja Rp5,5 juta itu untuk bertiga, kira-kira Rp60ribu per hari.  Ya buat makan, ya transportasi, ya urus rumah, dll. Cukup ga?
Kalau enggak, ya sesuaikan harga kontrak rumahnya. Jika tak bisa dan harus kontrak rumah Rp2 juta per bulan, ya tambah penghasilannya.
Dana asuransi kesehatan, itu WAJIB.  Jangan diutak-atik.
Dana darurat juga harus punya. Bentuknya aset cair. Kalau ada hal insidensial, bisa digunakan.
Asuransi jiwa, menurutku juga penting. Kalau ada apa-apa, lebih tenang ada proteksi untuk mereka yang ditinggalkan. Apalagi jika kita penopang ekonomi keluarga.
Investasi, harus. Dipaksain. Kalau enggak gitu, sampai tua kita bakal terus pas-pasan. Harus dipaksa investasi. Ga sanggup beli emas 100 gram, ya bisa coba reksadana. Sekarang kan reksa dana bisa diawali dengan dana mulai Rp100 ribu saja.  Sekali belanja instrumen investasi, bakal keranjingan kok. :D
Kamu gitu juga enggak?


Empat Pos Saat Gajian

Empat hari lagi, gajian ya? Horee!! :D
Waktunya untuk segera praktik jurus HABISKAN GAJIMU SEGERA!
La kok dihabiskan? La yaa kalau disisain paling tinggal recehan kan? Mau apa dong ama recehan? :D


Jadi, cerita nih.. saya baru beres baca bukunya  pakar finansial Ahmad Gozali. Pesan penting dalam buku itu ialah segera HABISKAN untuk memenuhi 4 hak, yaitu Hak Tuhan, Hak orang lain, Hak kita di masa depan dan Hak kita saat in
  1. Hak Tuhan
    Pos yang satu ini enggak bisa diganggugat. Sifatnya mendesak dan konsekuensinya berat jika terlambat. Ga cuma di dunia, tapi di akhirat. :D Aih, ini ga nakut-nakutin ya.Tapi, kalau saya pribadi, berasa jalan lebih lapang dan rezeki makin lancar jika pos utama ini terpenuhi dengan benar. Ada hak orang lain dalam pendapatan kita, besarnya 2.5% dari penghasilan. Itung-itungnya bisa pakai kalkulator zakat di web nya dompet dhuafa.  Mau lebih dari 2.5% ya bagus dong :DBiar gampang, biasanya saya bikin aja budget 10%. Bisa buat zakat+sedekah, plus kalo ada yang butuh sumbangan biaya RS, dll jadi lebih mudah kan.
  2. Hak Orang Lain
    Yang dimaksud dengan hak orang lain ialah pos utang atau cicilan. Misalnya, KPR, cicilan mobil/ motor. Dalam pengertian saya, bayar listrik pun bisa masuk pos ini jika kita pakai dulu baru bayar setelahnya, kecuali listrik pra bayar ya. Begitu juga dengan telepon. Jika langganan pasca bayar, ya masuk posnya disini. Besarnya, batasi maksimal 30%.Nah, coba deh berhitung. Jika jumlah daftar yang harus dibayar pada pos ini melebihi 30% pendapatan bersih per bulan, artinya ada yang salah dengan cash flow kita. Fokuskan dulu untuk membayar utang dan cicilan sampai cash flow sehat. Utang pun ada yang sehat dan merongrong. Utang kartu kredit jelas termasuk utang yang merongrong. Jika cash flow sudah normal dan membaik, boleh kok mulai nyicil beli rumah kos-kosan atau emas :D Yang penting, pembelian bisa bermanfaat sebagai investasi.
  3. Hak Kita di Masa Depan
    Nah, pos ketiga ini puenttingggggg banget. Terutama yang mau lebih nyaman di masa tua. Masa iya sih cynnnnn mau kerja mulu sampai tua. Bodi dah ga terlalu kuat.. :p

    Daripada nabung, kalau saya lebih suka investasi.
    Berhubung ga punya modal buat beli 1 ons emas per bulan, atau beli rumah, nah.. suka deh produk reksadana. Plus asuransi jiwa. Untuk anak, bisa pakai tabungan pendidikan (untuk target jangka pendek) dan reksadana buat kebutuhan jangka panjang. Pos untuk ini, 20%. Jika cashflow sehat tanpa utang, budget 30% cicilan bisa masuk ke sini.  Buat hak shopping, senang-senang, jalan-jalan, masuk juga kesini. Makanya lebih afdol kalau cashflow sehat dengan proporsi cicilan/utang cuma 20% gaji sehingga 10% bisa deh buat masuk ke pos ‘senang-senang’.
  4. Hak kita di Masa Sekarang
    Pos keempat ini termasuk pos yang paling mudah disesuaikan. Misalnya nih. Sebelum sadar bahwa cashflow berdarah-darah,  biasa makan siang di luar saat jam istirahat kantor dan tengah bulan pusing banyak cicilan belum dibayar. Setelah sadar cashflow ga sehat dan berniat punya kehidupan keuangan lebih beres, bisa tuh menyesuaikan anggaran dengan bawa bekal makan siang ke kantor. Terutama buat yang berkeluarga, ya. Langsung deh terasa bedanya. Contoh aja, telur 1kg per hari ini Rp21 ribu, isinya bisa 17 butir. Direbus, lalu dimakan ala salad lokal (gado-gado) ga butuh minyak, kan. Irit plus sehat. Dengan cara ini, biaya makan siang bisa CUMA Rp5000 saja loh. Bandingkan dengan makan di luar. Makan di warteg saja, di perkantoran Jakarta, minimal nih Rp10 ribu. Isinya nasi, sayur, tempe/tahu, es teh manis dan 1/2 dadar telor.
    Yang enggak bisa disesuaikan, mungkin asuransi kesehatan. Menurut saya, asuransi kesehatan merupakan poin wajib dalam pos ke-4 ini. Berhubung saya dan suami di cover perusahaan, maka asuransi kesehatan wajib deh buat anak. Banyak yang komentar “Eh, asuransi kesehatan kan angus. Sayang dong kalo enggak kepakai?”
    Betul, premi asuransi kesehatan tidak akan dikembalikan kepada kita jika tidak terpakai. Tapi buat saya, punya asuransi kesehatan lebih ‘aman’ ketimbang tiba-tiba mesti taro deposit ke rumah sakit saat ada peristiwa insidensial.Yang juga masuk poin wajib dalam pos ini ialah budget untuk  gaji asisten rumah tangga (hak orang inihhhh), air minum dan gas. Selebihnya, seperti belanja groceries ataupun toiletris bisa disesuaikan. Total budget untuk pos hak kita saat ini ialah 40% pendapatan bersih. Ada sisa? Bagus! Masukkan ke pos ke-1 atau ke-3. :)
    Makasih Pak Ahmad Gozali. Pembagian 4 pos ini berdasarkan hak masing-masing bener-bener ‘nancep’ di kepala. Semangat beresin cash flow! Yay!

Beli Asuransi Buat Masa Depan

Setiap minggu, adaaaa aja yang menghubungi saya untuk menawarkan asuransi. Kalau saya bilang, sudah punya asuransi jiwa, mereka bilang “Tambah dong, Ca. Biar manfaatnya dobel.”
Nah loh!

Saya sebetulnya termasuk orang yang percaya ‘siapkan payung sebelum hujan’ setelah menikah dan punya anak. Saat single, cukup bisa jalan-jalan, baca buku dan nonton film bagus, sudah cukup lah :D
Plus, dulu pas kuliah matematika dah dicekokin teori probabilitas/peluang. Plus, sempet juga dapat kuliah statistika bersemester-semester lalu intip mata kuliah Aktuaria. Ahaha. Jadi, setelah menikah dan punya anak, yak.. saya beli asuransi. Enggak ada yang nawarin pun, pasti saya datengin kok kantor asuransi terdekat. :D
Jika dana terbatas, maka yang paling wajib dimiliki ialah asuransi kesehatan, terutama buat single (belum berkeluarga atau tidak punya tanggungan). Biasanya, single yang bekerja kantoran sudah dibelikan asuransi kesehatan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Seperti saya, sudah dapat asuransi kesehatan dari tempat saya bekerja. Cek ricek saja, apakah asuransi kesehatan yang kita punya  sekaligus cover penyakit kritis.  Tujuan punya asuransi kesehatan, ya biar ga ngerepoting orang tua sih. Apalagi jika hidup terpisah dari ortu.
Buat yang sudah berkeluarga, wajib punya asuransi kesehatan untuk semua anggota keluarga. Kalau perlu, buat asisten rumah tangga yang tinggal di rumah. Biar ga repot jika kebetulan sakit melanda.
Nah, jika sudah punya asuransi kesehatan yang tinggal tunjukin kartu bisa masuk rumah sakit (bukan reimburse) maka saatnya punya asuransi jiwa. Kalau belum punya tanggungan sih, ga perlu punya asuransi jiwa. Lebih baik uangnya dibuat beli reksadana atau produk investasi lainnya. Bisa emas, perak atau saham, cepet cairnya saat dibutuhkan. Tapi jika sudah punya tanggungan, nah.. unsur proteksi jadi penting. Makanya butuh asuransi jiwa. Jika ada apa-apa terjadi pada kita, maka ada uang pertanggungan untuk keluarga, terutama sih anak ya. Jangan sampai insiden terjadi pada kita berakibat buruk pada si buah hati jadi ga punya masa depan. Amit-amit.
Jika suami bekerja dan menafkahi keluarga, maka ia perlu memiliki asuransi jiwa. Jika istri bekerja, ya perlu juga. Beli saja asuransi jiwa yang sekaligus memberikan proteksi untuk penyakit kritis. Kalau asuransi jiwa yang saya punya, Uang Pertanggungan bisa mencapai 2.5Milyar. Jika saya meninggal dibawah usia 70 tahun, akan cair UP sebesar Rp1 Miliar untuk ahli waris. Mayan ya? Preminya Rp600ribuan per bulan, daftar ketika usia 30an.
Jika ibu rumah tangga tanpa penghasilan, gimana? Perlukan asuransi jiwa? Menurut saya sih iya. Apalagi jika punya anak. Tapi, biar manfaatnya optimal, ya pilih yang UP nya sekalian besar. Misal ya, ibu meninggal, cair dana sekalian besar, bisa buat dana pendidikan anak-anak juga toh? Dan harus diingat juga faktor risiko. Ibu rumah tangga sekalipun bisa juga kan kecelakaan, lalu cacat?
Setelah asuransi kesehatan, asuransi jiwa, maka yang selanjutnya ialah asuransi kendaraan dan asuransi rumah. Selain Itu, asuransi pendidikan juga paling perlu karena nilai uang tunainya dapat membantu membiayai dana pendidikan anak kita kelak disaat sudah dewasa. Untuk pendidikan, siapkan investasi misalnya beli emas atau perak, juga reksadana. Namun dibarengi dengan asuransi jiwa.
Artinya, kalau kita dikasi sehat, ya kita punya dana investasi untuk pendidikan anak. Jika umur kita enggak cukup ya ada UP dari asuransi jiwa yang bisa dimanfaatkan untuk tambahan dana pendidikan anak di masa depan.
Nah, gimana? Siap belanja asuransi?

Jumat, 06 Juni 2014

Kenaikan Unitlink Generali

Sunday, 18 May 2014

Unit Link Generali Naik 104 Persen Sejak Gunakan ARMS


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Keputusan PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia memasang sistem pengaman alias Auto Risk Management System (ARMS) dalam unitlink mereka membuahkan hasil manis. Pendapatan premi sebelum audit asuransi berbasis di Italia ini per akhir  2012, melonjak 104 persen menjadi Rp 644 miliar dari akhir tahun sebelumnya Rp 315 miliar.
Dari angka tersebut,  kontribusi premi unitlink per akhir Desember tahun lalu sebesar Rp 442 miliar, tumbuh 122 persen dibandingkan akhir Desember 2011 Rp 199 miliar. Sisanya produk tradisional.
Generali Indonesia menjadi satu-satunya perusahaan asuransi yang menggunakan ARMS. Sistem ini merupakan fitur  yang membuat nasabah bisa leluasa mengatur sendiri campuran aset investasi dan menjalankan metode risiko secara otomatis.
Alhasil risiko investasi di unitlink mereka aman ketika pasar tidak stabil. Menurut Edy Tuhirman, CEO PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia, sistem yang melindungi nilai  investasi unitlink saat pasar menurun ini memikat nasabah. "Permintaan naik karena nasabah paham arti keamanan," terangnya pada Rabu (20/2/2013).
Edy menegaskan, tahun ini pasar asuransi jiwa di tanah air masih positif. Produk unitlink masih tetap akan diminati. Makanya, asuransi asal Italia ini bakal melakukan beberapa perbaikan untuk produk-produk riders mereka.
Tujuannya supaya kebutuhan pasar dapat terpenuhi. Selain itu jalur distribusi mereka melalui bank juga akan ditambah. Saat ini Generali menunggu izin dari Bank Indonesia untuk memasarkan produk melalui Bank Mestika yang berbasis di Sumatera Utara. Jalur yang berkontribusi besar adalah bancassurance 50 persen, keagenan 20 persen dan sisanya employee benefit. "Bank ini sangat dekat dengan pedagang," tegasnya. (Kontan/Feri Kristianto)

Sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2013/02/21/unitlink-link-generali-naik-104-persen-sejak-gunakan-arms