Running Text

ASURANSI GENERALI INDONESIA MEMBERIKAN 2 PERLINDUNGAN SEKALIGUS YAITU PERLINDUNGAN KESEHATAN SEKALIGUS PERLINDUNGAN INVESTASI DARI KRISIS EKONOMI

Kamis, 19 Juni 2014

Menyiapkan Biaya Kuliah Si Kecil

Asuransi Pendidikan Generali Indonesia
Menurut Ligwina Hananto MBA, konsultan keuangan Quantum Magna Financial, biaya pendidikan rata-rata naik sekitar 20% per tahun. Belum lagi laju inflasi di Indonesia. “Inflasi untuk sekolah swasta di Indonesia sekitar 20% per tahun, dan 15% per tahun untuk universitas di Indonesia,” tambah Ligwina.
Sebagai gambaran, bila inflasi diestimasikan sekitar 6% per tahun, maka dalam 9 tahun saja, total inflasi menjadi sebesar 54%. Jika saat ini biaya kuliah per semester di universitas negeri Rp 5 juta dengan uang pangkal sekitar Rp 20 juta, maka biaya kuliah yang harus Anda persiapkan untuk tahun 2017 menjadi sekitar Rp 107,8 juta (dengan perhitungan future value). Jika biaya buku perkuliahan dan alat tulis sekitar Rp 5 juta per semester, maka tambahkan lagi angka Rp 77 juta untuk biaya buku selama 10 semester. Belum lagi ongkos transportasi, uang makan, dan biaya hidup jika anak bersekolah di kota lain atau tinggal sendiri, anggap saja sekitar Rp 3,5 juta per bulan dan Anda mendapatkan perkiraan biaya hidup Rp 210 juta. Maka, total biaya untuk menyekolahkan si kecil di tahun 2017 menjadi Rp 400 juta. Itu berarti Anda perlu menyisihkan uang Rp 3,7 juta per bulan hingga 9 tahun ke depan! Dan, perhitungan ini hanya berlaku jika si kecil diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
Jika Anda berencana menyekolahkannya di Perguruan Tinggi Swasta, angkanya bisa menjadi dua kali lipat. Membayangkan angka yang demikian fantastis, Anda mungkin merasa pesimis bagaimana bisa membiayai kuliah si kecil kelak, bila saat ini saja tagihan kartu kredit Anda sudah menumpuk di meja. Untuk mendapatkan solusinya, kami bertanya kepada perencana keuangan keluarga untuk membantu Anda. Ini yang perlu Anda ketahui. Menghitung biaya pendidikan.

Menurut Rina N. Sandy, RFA dari Sarosa Consulting Group, ada tiga langkah utama yang perlu Anda ketahui secara pasti. “Langkah pertama adalah menentukan pilihan,” ujar Rina. Pilihan di sini haruslah spesifik, Anda harus menentukan apakah si kecil kelak akan disekolahkan ke sekolah negeri atau swasta, di dalam atau di luar negeri, dengan standar mutu internasional atau nasional. “Menentukan secara persis pilihan sekolah bagi anak, bertujuan untuk mencari tahu berapa besar biaya sekolah dan uang pangkal saat ini.” Lanjut Rina.

Jangan lupakan juga biaya buku sekolah, seragam dan biaya hidup, apalagi jika sekolah yang dipilih berada di luar kota. Setelah Anda tahu persis pilihan sekolah dan total biaya yang dibutuhkan, maka langkah kedua adalah menentukan jangka waktu dan target biaya di masa depan. Jika saat ini si kecil berusia 3 tahun, maka Anda harus mulai berhitung kapan si kecil masuk TK, SD, SMP, SMU, dan Universitas. Kemudian sesuaikan dengan dana yang harus dialokasikan setiap bulan agar jumlahnya cukup ketika si kecil memasuki jenjang pendidikan tersebut.

Rina mengingatkan agar saat menghitung biaya, Anda tidak melupakan laju inflasi, normalnya sekitar 10% sampai 20%. Untuk menghitung biayanya, ada rumus sederhana yang bisa Anda terapkan dengan menggunakan rumus:
future value: FV= PV. (1+r)n . 
FV atau future value adalah besarnya biaya di masa depan
PV adalah nominal biaya sekolah saat ini
r adalah besarnya bunga
n adalah jangka waktu yang Anda butuhkan
Bingung menghitungnya? Klik saja http://1040tools.com untuk kalkulator future value online. Setelah Anda mendapatkan nominal perkiraan, misalnya Rp 400 juta, maka dalam jangka waktu sampai si kecil masuk kuliah, Anda sudah harus bisa menyiapkan sejumlah besar dana yang dibutuhkan tersebut. Untuk itu, maka langkah ketiga –langkah yang paling penting– adalah menentukan penempatan dana sesuai dengan harapan hasil investasi yang bisa diterima di kemudian hari.

Ada banyak pilihan yang bisa Anda lakukan, mulai dari tabungan pendidikan, asuransi, hingga investasi. Semuanya disesuaikan dengan jangka waktu dan kebutuhan Anda. Jika Anda berani menanggung risiko, Anda bisa mencoba memilih investasi di bursa saham yang akan memberikan hasil yang jauh lebih tinggi daripada deposito atau tabungan pendidikan. Menyimpan biaya kuliah Meski semua penasihat keuangan akan menyarankan Anda untuk mulai menabung biaya pendidikan di rekening tersendiri bagi setiap anak sedini mungkin, jangan khawatir jika setelah melakukan perhitungan, Anda merasa tidak akan bisa menabung dengan jumlah yang dibutuhkan tersebut sampai si kecil berusia 18 tahun.
Sebagai gambaran, bila Anda mulai berinvestasi menggunakan reksadana pendapatan tetap setidaknya sekitar Rp 4 juta per tahun dengan bunga 10% per tahun sejak anak berusia setahun, maka saat si kecil masuk kuliah, Anda akan mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 182 juta. Meski nominal ini masih di bawah (misalnya) angka Rp 400 juta yang Anda butuhkan, dana ini tetap akan sangat membantu dibandingkan Anda tidak menyisihkan uang sama sekali.

Lalu, bagaimana mendapatkan sisanya? Jika usia si kecil masih di bawah lima tahun, maka Anda masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan dana tersebut. Rina menyarankan Anda memilih instrumen investasi jangka panjang seperti reksadana saham. Meski investasi ini memiliki risiko moderat hingga risiko tinggi, tapi hasil investasinya akan cukup tinggi dibandingkan menyimpan di tabungan atau deposito. Yang perlu Anda ingat jika memilih investasi jenis ini adalah Anda menyimpan untuk jangka waktu yang lama, bukan jangka pendek.

Jika Anda ragu-ragu memilih berbagai jenis investasi, maka Rina juga menyarankan agar Anda mencari pekerjaan tambahan. “Ada banyak jenis pekerjaan tambahan yang bisa Anda lakukan, apalagi jika itu menjadi bagian dari hobi Anda,” jelas Rina. Misalnya, Anda pandai membuat kue kering dan kue ulang tahun, Anda bisa menawarkannya kepada rekan kerja atau ibu-ibu di taman bermain si kecil. Atau, jika Anda hobi menulis, Anda bisa menjadi kontributor media cetak. Selain itu, masih ada pilihan lain yang bisa membuat Anda menarik napas lega, universitas besar biasanya akan memberikan beasiswa bagi murid-murid yang berprestasi di sekolahnya. Dan, ini bukan hanya di bidang akademis. Universitas Pelita Harapan di Tangerang misalnya, memberikan beasiswa bagi anak-anak yang menonjol di bidang olahraga bola basket.

Perguruan Tinggi Negeri juga menyediakan beasiswa bagi mahasiwanya yang memiliki nilai akademik tinggi. Bahkan perusahaan besar seperti Sampoerna Foundation, atau Yayasan Chevron Texaco dari Caltex, dan beberapa kedutaan besar di Indonesia, membuka bantuan beasiswa setiap tahunnya. Ketika Anda merasa kewalahan mengatur keuangan dengan berbagai kebutuhan si kecil mulai dari popok, susu, babysitter, hingga uang pangkal si kecil di kelompok bermain, memang berat membayangkan bagaimana Anda masih bisa menyisihkan sedikit uang ekstra dari gaji bulanan Anda untuk biaya pendidikan si kecil.

Yang perlu Anda ingat bahwa saat anak-anak masih kecil, Anda belum berada pada posisi puncak karir dan pendapatan. Lima belas tahun dari sekarang, kemungkinan besar gaji Anda akan meningkat, dan biaya pengeluaran untuk kebutuhan bulanan anak juga semakin berkurang, dan Anda akan punya sisa gaji bulanan yang lebih besar untuk membantu membiayai kuliah anak. Melihat besarnya biaya dengan perspektif nyata

Yang terakhir, Rina menyarankan Anda untuk bersikap realistis. Jika memang kondisi keuangan keluarga belum bisa mencukupi kebutuhan tersier, maka Anda disarankan untuk menurunkan pilihan. “Menyekolahkan anak di perguruan tinggi ternama di Amerika mungkin menjadi cita-cita sebagian besar orang tua, tapi jika kondisi keuangan memang tidak mencukupi, daripada Anda terjebak utang, lebih baik Anda menyekolahkannya di negeri sendiri”, jelas Rina.

Anda memang tidak disarankan untuk meminjam uang ke bank untuk biaya kuliah anak. Mengapa? Karena akan sangat membebani secara finansial jika Anda harus membayar cicilan ditambah bunga. Satu hal yang juga perlu Anda ingat saat mengetahui betapa tingginya biaya kuliah: Besarnya biaya kuliah tersebut adalah proyeksi perkiraan biaya masa depan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Tapi, para ahli beranggapan bahwa biaya pendidikan tinggi semakin lama semakin menggila sehingga kemungkinan besar masih akan dikaji ulang sebelum si kecil yang kini berusia 2 tahun lulus dari SMU.

Saat ini memang tidak ada cara pasti untuk memerkirakan seperti apa gambaran biaya kuliah lima belas tahun lagi. Namun Anda bisa membangun awal yang baik dengan merencanakannya secara bijak dan menyisihkan uang sebanyak yang Anda bisa, serta berusaha untuk tidak terlalu panik memikirkan tingginya angka untuk biaya kuliah si kecil kelak.

Kesalahan Dalam Perencanaan Keuangan Keuarga

Banyak orang tua baru yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam perencanaan keuangan keluarga. Baca tulisan di bawah untuk menghindarkan keluarga Anda dari permasalahan finansial.
Saat Anda baru saja memiliki momongan dan hari-hari Anda dipenuhi dengan kesibukan mengisi botol susu, mengganti diaper, dan malam-malam panjang melelahkan tanpa tidur karena si kecil kerap terbangun, adalah mudah untuk mengesampingkan berbagai hal yang sebenarnya krusial dalam hidup. Apalagi jika hal yang dimaksud sangat membosankan seperti: merencanakan keuangan keluarga. Karena itu para orang tua baru sering kali melakukan kesalahan dalam mengelola keuangan mereka, justru pada masa paling penting dalam rumah tangga (karena kehadiran anggota keluarga baru). Kabar baiknya: Sebenarnya, cukup dengan sedikit perhatian dan perencanaan yang tepat, Anda bisa menghindarkan diri dari berbagai kesalahan finansial.

Kesalahan # 1
Tidak Memiliki Asuransi Jiwa yang Tepat
Mungkin Anda sudah menyadari pentingnya memiliki asuransi jiwa sebagai jaring pengaman bagi anak seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan. (Jika Anda belum menyadarinya, kini Anda tahu: Segera daftarkan asuransi jiwa Anda!) Tapi kadangkala, bahkan orang tua yang sudah mendaftarkan diri mengikuti asuransi jiwa tidak mendapatkan perlindungan yang maksimal. “Banyak orang yang tidak mendapatkan klaim yang pantas,” ujar Tim Wyman, financial planner di Southfield, Michigan. “Mereka tidak menyadari berapa nilai klaim yang pantas agar keluarga dapat tetap bertahan hidup dengan normal jika kepala keluarga sebagai sumber pendapatan meninggal dunia.”
Nilai yang pantas adalah mendapatkan tujuh hingga sepuluh kali lipat dari pendapatan kotor per tahun saat anak-anak masih berusia muda.  (Jika seandainya Anda memiliki penghasilan Rp. 60 juta per tahun, Anda seharusnya diasuransikan sebesar Rp. 420 juta hingga Rp. 600 juta.)  Bahkan para orang tua yang bekerja dari rumah juga sebaiknya memiliki asuransi jiwa: Keluarga Anda juga pasti tetap membutuhkan biaya untuk perawatan anak dan berbagai keperluan lain seperti biaya pendidikan jika terjadi sesuatu pada Anda. Kebutuhan setiap keluarga berbeda-beda, jadi berkonsultasilah dulu dengan konsultan keuangan. Jika Anda gemar surfing di internet, coba kunjungi situs insweb.com/learning center. Di situs ini, Anda bisa mengkalkulasikan nilai asuransi jiwa yang sepantasnya Anda dapatkan.
Kebanyakan konsultan keuangan akan menyarankan Anda untuk memilih “asuransi jiwa berjangka”, polis ini memiliki premi yang harus Anda bayarkan dalam jangka waktu tertentu (misalnya 20 tahun). Anda tidak disarankan untuk memilih “asuransi jiwa seumur hidup” atau “asuransi permanen” dimana keluarga Anda hanya akan dilindungi oleh asuransi selama Anda terus membayar preminya. Biasanya, polis permanen-lah yang dianggap sebagai investasi yang paling baik, meski kenyataannya tidak demikian. Banyak orang beranggapan bahwa membayar premi asuransi dengan nilai kecil dan stabil seumur hidup, lebih baik daripada membayar premi dengan jumlah yang lebih besar dalam jangka waktu tertentu. “Sebenarnya tidak demikian,” ujar Wyman. “Yang justru lebih penting adalah Anda sudah berhasil memiliki jumlah uang yang cukup besar saat anak-anak masih kecil dan belum lepas dari tanggung jawab Anda.”
Penting juga untuk Anda ketahui :
√  Membeli asuransi jiwa untuk anak Anda yang masih bayi. Asuransi ini memiliki premi yang sangat kecil. Tapi seandainya anak Anda bukan seorang bintang sinetron terkenal, ia tidak membutuhkannya. Tujuan utama asuransi adalah untuk menggantikan sumber pendapatan yang hilang seandainya terjadi sesuatu. Kebanyakan bayi tidak memiliki pekerjaan.

√  Asuransi Anda tidak memberi perlindungan terhadap risiko cacat tubuh. Jika Anda pekerja kantoran, tanyakan pada perusahaan seberapa besar dari pendapatan Anda yang dapat Anda klaim jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat tubuh: seringkali perusahaan hanya bisa memberi kompensasi sebesar 60 sampai 70 persen dari penghasilan Anda. Jika nominal tersebut tidak mencukupi untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari, Anda bisa mengajukan polis asuransi cacat yang dikeluarkan oleh swasta.

Kesalahan # 2
Menunda Untuk Mulai Menabung Dana Pensiun
Dengan semua perhatian yang tercurahkan pada si kecil, sangat mudah untuk melupakan kebutuhan bagi Anda sendiri. Banyak orang tua baru yang justru berhenti menabung untuk dana pensiun mereka supaya bisa mulai membuka dana pendidikan untuk kuliah si kecil. Ini adalah kesalahan yang sangat serius. “Ada banyak program dana pendidikan dan pinjaman dari bank yang bisa Anda ambil untuk membantu membiayai kuliah anak, tapi tidak ada program peminjaman untuk orang-orang yang memasuki masa pensiun,” ujar Katrina Miller, financial planner di Golden, Colorado.
Kunci dari memiliki dana pensiun yang cukup, berhubungan erat dengan seberapa lama Anda mulai menabung. Semakin lama Anda berinvestasi, semakin besar hasil yang Anda akan terima. Karena itulah, jika Anda berhenti menabung dana pensiun, Anda berisiko membahayakan masa depan keuangan keluarga. Meskipun keuangan Anda sedang ketat, Anda harus tetap berusaha menyisihkan sebagian uang untuk dana pensiun kelak. (Idealnya, orang tua baru harus bisa menyisihkan minimal 10 persen dari pendapatan total keluarga setiap bulan.)
            Selain hal tersebut, Anda pun perlu menyisihkan pendapatan bulanan untuk dana pensiun, coba mulai menyisihkan sebagian lagi untuk dana pendidikan anak, meski hanya Rp. 100.000 per bulan. Lebih cepat lebih baik: jika Anda baru mulai menyisihkan uang saat si kecil sudah berusia 5 tahun daripada saat ia baru lahir, Anda harus menyimpan 75 persen lebih banyak untuk mendapatkan jumlah nominal yang sama besarnya saat anak berusia 18 tahun. Jika Anda ingin tahu lebih banyak seputar merancang biaya pendidikan bagi anak, coba kunjungi website savingforcollege.com.

Kesalahan # 3
Tidak Berfikir Untuk Membuat Surat Wasiat
Tidak ada orang yang ingin lama-lama berfikir tentang kematian, apalagi jika Anda punya anak yang masih kecil dan masih menggantungkan hidupnya pada Anda. Tapi jika Anda tidak membuat surat wasit dan dana perwalian bagi anak, kemungkinan besar si kecil akan terlantar secara finansial dan emosional jika Anda tiba-tiba meninggal dunia.
Jika perusahaan tempat Anda bekerja memberi fasilitas kesehatan, segera lakukan reimbursement setelah Anda melakukan pengeluaran. Jika Anda menunda klaim, uang Anda bisa dianggap hangus.
Alasan nomor satu mengapa orang  tua membutuhkan surat wasiat: Agar Anda, dan bukan pengadilan atau yayasan kesejahteraan anak yang akan menentukan wali bagi anak-anak Anda. “Saya sering melihat pertengkaran antara mertua, saudara kandung, sepupu bahkan kerabat dekat yang memperebutkan hak asuh anak,” ujar Robin Giles, financial planner di Laguna Niguel, California.”Adalah langkah yang lebih cerdas untuk membiarkan semua orang tahu keinginan Anda saat Anda masih hidup.”
Hal yang tidak kalah penting adalah mendirikan dana perwalian yang menjelaskan kapan anak Anda bisa mendapatkan dan mengelola sendiri warisan orang tuanya. Tanpa dana perwalian yang jelas, anak-anak akan otomatis menerima dana tersebut saat mereka berusia 18 tahun. “Ini adalah jumlah uang yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk dikelola oleh anak berusia 18 tahun,” ujar financial planner Chris Cooper di Toledo, Ohio.
Pilihan terbaik adalah berkonsultasi dengan pengacara untuk membuat wasiat dan dana perwalian yang tepat. Penasaran ingin mengetahui seperti apa bentuk surat wasiat? Coba program Quicken WillMaker Plus di komputer Anda.

Kesalahan # 4
Melakukan Pemborosan dalam Keuangan
Saat Anda baru saja menjadi orang tua, akan ada banyak tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup seperti memberi makan anak-anak, pakaian dan hiburan. Sangat sulit rasanya mencari waktu untuk duduk sejenak dan mencatat besarnya pengeluaran setiap bulan. Padahal tindakan ini sangat perlu. Anda harus memastikan bahwa Anda tidak melakukan pembelanjaan yang lebih besar dari pendapatan Anda. “Anda juga harus bisa mengerem keinginan untuk membeli berbagai barang yang sebenarnya tidak perlu, seperti keranjang tidur yang mahal atau stroller dari designer ternama.” Ujar Miller. “Bayi Anda tidak akan peduli terhadap hal ini.”
Para ahli keuangan setuju bahwa akan sangat sulit untuk bisa menstabilkan keuangan saat Anda sudah terlilit banyak hutang. “Banyak para ibu baru yang memutuskan untuk berhenti bekerja, lalu menghamburkan uang mereka membeli berbagai barang mahal bagi si bayi dengan anggapan bahwa mereka akan bisa menyimpan uang saat kembali bekerja beberapa tahun kemudian,” ujar Miller. “Tapi kemudian mereka menyadari bahwa hal ini tidak akan terjadi karena biaya hidup naik setiap tahunnya.”
Adalah hal yang sangat penting bagi ibu rumah tangga untuk mengatur keuangan keluarga dengan baik. “Kebanyakan wanita merasa mereka tidak berhak untuk membuat keputusan dalam hal keuangan karena mereka bukan sumber pendapatan keluarga,” ujar Mary Claire Allvine, financial planner di Atlanta. “Sesungguhnya, baik suami maupun istri harus ikut terlibat dalam perencanaan keuangan keluarga yang bisa membantu Anda berdua mencapai keamanan finansial di kemudian hari.” 

Selasa, 17 Juni 2014

Perencanaan Tabungan Investasi Untuk Hari Tua

Mempersiapkan masa pensiun sejak dini tentu sangat perlu. Pertimbangan utamanya, jangan sampai di masa tua kita hanya menjadi beban bagi orang lain, entah itu anak atau keluarga.Alangkah senangnya hidup ini kalau saat muda kita kaya raya dan ketika tua hidup tidak merana. Harapan itu bukan angan-angan kosong. Kalau Anda mau merencanakan hidup masa depan sejak dini, hidup merana ketika usia senja tentu tak akan terjadi.

      Karena itu, penting bagi Anda untuk menata dan merencanakan keuangan guna mempersiapkan masa pensiun. Apalagi masa depan para pegawai swasta seringkali hanya berbekal duit pesangon yang besarnya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan hidup beberapa tahun setelah pensiun.

      Menurut perencana keuangan yang juga penulis buku Bangun Kekayaan Sejak Belia, Andreas Freddy Pieloor, masa tua memerlukan dana yang besar sehingga butuh persiapan yang baik. Kondisi keuangan yang memadai di masa tua tak akan terwujud kalau kita hanya mengandalkan uang pesangon. “Untuk itulah, upayakan sekeras mungkin guna menyisihkan dari gaji untuk bekal di hari tua,” ujar Freddy.     Menurut Aidil Akbar, pakar perencana keuangan dari Akbar”s financial Check Up, perencanaan keuangan masa pensiun untuk setiap orang itu berbeda, karena kebutuhan setiap orang untuk hari tuanya juga berbeda pula.

     Meski begitu, satu hal paling penting yang harus ditanamkan pada diri sendiri untuk mempersiapkan hari tua adalah konsistensi mempersiapkan pensiun, baik mengikuti program-program pensiun maupun berinvestasi secara mandiri. “Agar pensiun nyaman dan bisa hidup layak, perlu dipersiapkan secara serius,”kata dia.      Makanya, Aidil menyarankan, paling tidak 20% dari penghasilan yang diterima setiap bulan dialokasikan untuk persiapan masa tua. Begitu pula bagi masyarakat yang memilih profesi sebagai wiraswasta. Perlu juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk masa tua.Pensiun dengan Tenang

      Pensiun memang harus kita persiapkan sejak awal. Untuk itu perencanaan yang matang sangat diperlukan. Dan, inilah yang perlu Anda perhatikan agar masa pensiun berjalan menyenangkan.
      Pertama, Anda memiliki gambaran awal tentang apa kegiatan yang akan dilakukan di masa pensiun nanti. Ini penting sebagai rujukan pengeluaran uang kelak. Misalnya, Anda ingin mengembangkan  hobi menanam bunga yang tak sempat dilakukan disaat masih aktif bekerja.  
     Kedua, pertimbangkan juga faktor kesehatan. Di masa pensiun, tubuh lebih mudah diserang penyakit. Tentu ini juga biaya, karena bakal sering periksa ke dokter, membeli obat, atau menginap di rumah sakit.
     Ketiga, pertimbangkan masak-masak pilihan investasi untuk persiapan pensiun nanti. Pilih investasi sesuai karakter Anda. Kalau tidak berani menyerempet resiko, ya jangan investasi di saham, misalnya.
     Keempat, rutin menyisihkan sedikitnya 20% dari gaji. Kalau tidak rutin, hasilnya tentu juga tidak bagus. 
     Kelima, lebih cepat tentu lebih baik. Jika Anda mau mulai sejak muda, tentu tabungan atau investasi bakal berbiak lebih besar dibandingkan kita memulai sepuluh tahun lagi. Selamat menata pensiun. (sumber : tabloid Kontan, edisi khusus Mei 2010)  



 

Jangan Menolak Membeli Asuransi

Asuransi yaaaaa!!!!!!!!!!!
Pernahkah Anda didatangi oleh Agen Asuransi? Atau saat ini malah dikejar-kejar Agen Asuransi. Apa yang ada di benak Anda saat itu? Apakah menurut Anda asuransi dan manfaatnya? Apa persepsi Anda tentang asuransi? Cukup banyak tanggapan yang muncul, ada yang MEMILIKI konotasi negatif tetapi ada juga yang positif.

 Dibawah ini 10 ALASAN KLASIK ORANG MENOLAK ASURANSI

1) Saya belum punya uang untuk beli asuransi / saya belum mapan
Jika anda tidak punya uang atau belum mapan, yang bisa berarti Anda juga termasuk tidak dapat membayar semua tagihan anda saat anda sehat dan dapat bekerja, secara logika saja, bagaimana mungkin anda akan dapat membayarnya nanti pada saat anda sakit dan tidak memiliki penghasilan?
Jadi: Orang yang tidak mampu membeli asuransi sebenarnya justru orang itulah yang lebih membutuhkan asuransi dibandingkan dengan orang yang mampu membelinya.
Asuransi seharusnya menjadi salah satu prioritas yang diperhitungkan jika dibandingkan keinginan atas trend pakaian, trend hobby, trend aksesoris dll. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, (termasuk pengeluaran pembayaran rekening listrik, telepon, dll) prioritaskan juga Asuransi di dalam rencana pengeluaran bulanan anda.

 2) Saya masih punya cicilan kredit rumah
Ketika Anda memiliki kredit rumah, anda harus terus menerus membayar sejumlah besar uang selama 10 atau 15 tahun ke depan. Anda memang dapat memenuhi kewajiban tersebut, namun apakah keluarga anda dapat membayarnya jika anda Tutup Usia atau mengalami Sakit Berat sebelum cicilan kredit tersebut selesai? Anda pasti ingin keluarga anda akan tetap tinggal di rumah yang indah, rumah yang telah anda berikan bagi mereka untuk selamanya, dan bukan diwariskan sisa cicilan rumah

 3) Saya tidak butuh asuransi
Saya sangat setuju Anda tidak membutuhkannya karena Masih Sehat Bugar. TETAPI…Apakah menurut Anda seorang yang menjadi cacat tetap karena suatu kejadian membutuhkan asuransi? Apakah orang yang baru saja terkena serangan jantung ; harus mengeluarkan uang 150 juta untuk biaya operasi membutuhkan Asuransi? Apakah keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang baru saja meninggal dunia membutuhkannya?
Jawabannya adalah PASTI “Ya !” mereka membutuhkannya tetapi tidak dapat membelinya pada saat telah terjadi kemalangan tersebut.
Asuransi seyogyanya dimiliki justru pada saat Anda tidak membutuhkannya. Karena pada saat Anda membutuhkannya, mungkin Anda sudah tidak dapat membelinya lagi. Itulah Asuransi. Anda hanya dapat membeli asuransi ketika Anda sehat. Anda membeli asuransi dengan kesehatan Anda dan membayarnya dengan uang Anda. Jika Anda tidak lolos pemeriksaan kesehatan, maka Anda tidak akan dapat membeli asuransi walaupun Anda memiliki uang, dengan kata lain, perusahaan asuransi akan menolak permohonan polis Anda jika pada saat Anda mengajukan asuransi Anda tidak dalam kondisi sehat. Saat Anda sehat adalah saat yang tepat bagi Anda untuk membeli asuransi.

4) Saya diskusikan dahulu dengan istri saya
Asuransi adalah Surat Cinta terindah dan hadiah yang terbaik yang Anda belikan untuk istri Anda. Anda dapat berdiskusi dengannya atau Anda dapat langsung membelinya. Jika Anda memutuskan untuk langsung membelinya, setelah Anda menerima polis barulah Anda bawa polis tersebut & anda berkatakan padanya : “Kekasihku, sepanjang masa hidupku aku akan menjaga dan mencukupi segala kebutuhan kita, makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan anak kita. Tetapi jika suatu hari nanti saya Tutup Usia, maka polis inilah yang akan menjagamu serta mencukupi setiap kebutuhan hidup kamu dan anak-anak kita. Sebesar inilah cintaku padamu dan pada keluarga kita“. Itulah bukti sesungguhnya dari cinta Anda. Istri Anda akan semakin mencintai Anda. Semua Istri Pada umumnya tidak menginginkan kejadian buruk menimpa suami pastinya, namun kelak, jika suatu hari Sang pencari Nafkah tutup usia dan meninggalkan Istri dan Anak anaknya terlebih dahulu, maka dengan daya juang yang selalu dimiliki setiap istri, keluarga yang di tinggalkan tetap dapat berusaha melanjutkan kehidupan dengan warisan yang ditinggalkan oleh Anda.
Asuransi adalah Surat Cinta Terindah dan hadiah yang terbaik yang dapat Anda belikan untuk istri Anda. Seorang istri yang memikirkan nasib anak-anaknya dan senantiasa berpikiran maju ke masa depan, tentu akan bersyukur dengan pemberian Anda. Lain halnya jika istri Anda tidak ingin mengurangi jatah bulanan saat ini demi kejelasan masa depan anak-anaknya. Maka Andalah yang seyogianya berusaha membukakan pikirannya untuk berhemat dengan menyisihkan sebagian uang Anda selama 5 tahun untuk jaminan kehidupan istri anda sendiri dan anak-anak di masa depan jika terjadi musibah terhadap Anda sebagai pencari nafkah.
Saya tidak ingin menyarankan agar Anda melakukan pembelian Polis tanpa sepengatahuan Istri Anda, melainkan Anda Wajib memberitahukan kepada istri Anda seluruh pengeluaran besar yang akan mempengaruhi kehidupan rumah tangga Anda. Beritahukan Istri Anda, dan Jelaskan. Kejujuran dan keterbukaan selalu menjadi tonggak penting dalam suatu rumah tangga. Jika Istri Anda tetap tidak mengerti dan menolak pembelian sebuah Polis Asuransi dengan menerima segala konsekuensi kelak, maka Anda seyogyanya menerima. Ini rumah tangga Anda, dan Anda haruslah senantiasa merasa nyaman.
“SEMUA ISTRI pada umumnya pasti menolak jika suami membeli Polis asuransi karena bagi mereka itu akan mengurangi Uang Belanja..TAPI SEMUA JANDA Tidak akan menolak Manfaat Uang Pertanggungan dan Nilai Tunai Investasi yang di berikan dari Polis Asuransi yang sudah di beli oleh suaminya” iya apa iya?!

 5) Saya ingin membandingkan dengan Asuransi perusahaan lain
Ini adalah gagasan yang baik, karena Asuransi adalah keputusan dan kontrak satu kali hampir seumur hidup. Tawarlah premi sesuai dengan kemampuan Anda, premi memang sangat mempengaruhi hasil dari asuransi, namun Anda berhak menentukan sendiri berapa Uang Pertanggungan atau berapa kemampuan premi yang Anda sanggup bayar. Mintalah pembayaran premi sesingkat mungkin jika Anda mampu, karena jika anda berkeinginan membeli asuransi pendidikan bagi anak, maka jika Anak anda 2, anda harus membelikan keduanya. Dengan pembayaran singkat (misal 5 tahun), Anda bisa membeli asuransi untuk pendidikan anak anda yang satunya setelah asuransi pendidikan anak pertama Anda lunas. Jadi pengeluaran Anda terlalu terbebani oleh premi asuransi. Himbauan pemerintah adalah, 2 anak 1 balita, dimana maksudnya adalah anak anda dua dengan minimal selisih jarak adalah 5 tahun, itu jika menurut idealnya.
Namun Kalimat penolakan tersebut Ada Satu kelemahannya. Bagaimana (maaf..amit amit semoga tidak terjadi padahal emang pasti terjadi dan kita tidak mengetahui kapan terjadinya) jika terjadi sesuatu pada diri Anda selama masa Anda membanding-bandingkan semua perusahaan ini? Misalnya Anda telah yakin bahwa Anda membutuhkan perlindungan. Sementara Anda akan melakukan perbandingan, bukankah sebaiknya Anda sudah dilindungi terlebih dahulu?
Seluruh perusahaan Asuransi memiliki fasilitas “FREE LOOK” atau “GRACE PERIOD”, yaitu masa Anda untuk mempelajari Polis Anda selama 14 hari setelah menerima polis. Jika Anda keberatan atau ternyata ada penjelasan Agen anda yang tidak sesuai dengan yang tercantum di polis, maka Anda berhak mengembalikan/membatalkan polis Anda, dan menerima kembali premi yang telah Anda bayarkan dengan sedikit potongan biaya administrasi.

6) Biarlah Tuhan yang menyediakan segalanya
Ya, Tuhan menyediakan segalanya, termasuk segala kemampuan yang melekat pada dari kita, dan alam semesta yang mendukung segala usaha kita. Manusia terlahir sudah tanpa Asuransi, begitu pendapat seorang Twitterest kepada saya, jadi biarlah begitu, tambahnya. Betul. Tetapi, Manusia juga terlahir tanpa pakaian, dan tanpa pendidikan. Manusia diberi kelebihan akal dan budi, untuk mengelola kehidupan yang dianugerahkan kepada kita manusia. Jika kita cermati, yang disediakan bagi kita adalah pancing dan kail, bukan ikannya. Kita bukan hanya tinggal menikmati, tetapi mengelola apa yang ada sehingga bisa dinikmati dan berguna bagi banyak umat manusia, bukan merugikan.Anda perlu bekerja dan merencanakan keuangan anda.

7) Anda terlalu memaksa, saya tidak mau membeli dari Anda
Salah satu alasan lain yang diajukan seseorang yang gencar ditawari Asuransi oleh agen asuransi yang sama adalah pernyataan seperti di atas, yaitu agen terlalu memaksa. Jika suatu saat Anda bisa berkata seperti itu kepada saya, maka saya akan berhenti menawari Anda Asuransi. Saya belum pernah sekali pun mendapat pernyataan seperti itu, karena saya memang tidak pernah memaksa.
Kembali kepada diri saya sendiri, jika saya ingin membeli susu untuk anak saya, kebetulan ada sales susu lain yang gencar promo produknya, maka saya tanpa berpikir panjang akan pergi meninggalkan sales tadi setelah mengambil susu yang saya butuhkan. Intinya, saya tidak suka dipaksa, begitupun saya yakin, bahwa Anda juga tidak. Apalagi asuransi untuk seumur hidup Anda, merupakan beban moral bagi saya jika suatu hari Anda menyesal dengan program yang saya tawarkan.

 8) Teman saya juga agen lho, aku akan ambil dari dia
Jikalau Anda memiliki teman baik yang juga menjadi agen asuransi jiwa, seharusnya saat ini Anda telah memiliki polis asuransi.Yang namanya teman sejati adalah orang yang bisa bantu kita pada saat kita kesusahan. Kalau kita masuk rumah sakit, biasanya teman kita bawa buah, agen asuransi bawa duit.
Silahkan, jika memang Anda memiliki teman baik yang merupakan Agen asuransi, lantas mengapa tidak segeralah Anda mengambil program Asuransi dari teman Anda? Lakukan segera, dengan begitu, jika suatu hari ditawari Agen asuransi Anda bisa menjawab, saya sudah punya langganan agen Asuransi, yaitu teman dekat saya sendiri/saudara saya sendiri. Maka Saya tidak akan menawari Anda kembali. Malah dengan begitu, saya dan Anda bisa menjadi teman sharing mengenai program asuransi yang sama-sama telah kita miliki. Menyenangkan, bukan?

 9) Asuransi bertentangan dengan agama saya
Jika Anda merasa bahwa Asuransi bertentangan dengan agama Anda, maka sudahlah jelas, bahwa Anda tidak usah membeli Asuransi.
Satu hal yang saya imani senantiasa adalah, saya sebagai manusia harus mengelola segala yang telah diberikan kepada kita, sebagai bukti syukur kepada Tuhan. Jika saya memiliki anak, maka saya harus mengerahkan segala kemampuan saya untuk mendidik nya, menyekolahkan nya, mengasihi nya, merawat, menjaga, mendampinginya, sampai ia mentas dan sudah mandiri, barulah saya tenang.
Semudah itu saja rumusannya, namun tetap saya harus mengantisipasi segala sesuatu di luar kehendak saya dengan cara yang saya mampu lakukan. Saya tidak ingin, jika saya sakit dan tua kelak, anak saya akan repot membiayai biaya perawatan saya. Ya seandainya anak saya sudah mapan dan mampu untuk itu, bagaimana jika saya sakit pada usia sekolahnya, dari mana ia bisa membayar biaya rumah sakit saya? Menurut saya, bukan dengan cara membebani anak saya yang saya jadikan bukti syukur kepada Tuhan.

10) Saya belum menikah, saya mau menikah dahulu baru memikirkan Asuransi.
Alasan inilah yang paling sering saya temui. Saya memang senang menawarkan asuransi pada orang yang masih muda. Kenapa? Karena preminya jauh lebih murah, sehingga lebih terjangkau. Dan secara logika, pengeluaran mereka belum besar.
Belum menikah, sepertinya memang tidak membutuhkan asuransi, namun seperti yang ditulis di atas, membeli asuransi adalah bukan pada saat kita perlu, melainkan pada saat kita tidak membutuhkannya. Di usia lajang, sebenarnya pos pengeluaran kita lebih sedikit, dan merupakan langkah cerdik jika kita memutuskan untuk membeli asuransi. Jika kita menikah kelak, kita tinggal melakukan perubahan ahli waris yang tertera pada polis, dan selesai. Kita tidak dibebani lagi dengan premi asuransi. Enak, bukan? Tinggal memikirkan langkah selanjutnya, memikirkan cicilan rumah, dan kebutuhan rumah tangga yang akan senantiasa mengikuti kebutuhan rumah tangga kita.

 Jadi: apapun alasan Anda …. sangatlah kurang tepat. Memiliki sebuah Polis Asuransi yang dimulai dengan mengajukan Surat Pengajuan Asuransi Jiwa ( SPAJ ) sesuai kebutuhan kita adalah Pilihan dan Langkah Cerdas, Cerdik, dan Tepat.

Senin, 16 Juni 2014

Jangan Memberi Beban Saat Kita Tua


Produk Generali Indonesia
Good Day Salam Orang Tua Generali Indonesia

Saat duduk menunggu antrian disebuah Bank beberapa waktu yang lalu. Saya memulai percakapan kecil dengan Orang Tua yang umurnya sebaya dengan Ayah saya. Saat pertama mengamatinya beliau tampak membolak balik buku tabungan pada lembar terakhir, ternyata beliau sedang menunggu dengan harap cemas kiriman uang dari anak perempuannya yang bekerja di luar negeri. Banyak dari Orang Tua yang tidak mempersiapkan masa tuanya, tugas mereka hanya menyekolahkan anak-anak mereka sampai bisa bekerja. Anak-anak seolah-olah jadi investasi balas budi, karena saat menua bisa jadi "Sandaran Hidup". Mereka lupa, bahwa diri sendiri harus juga dipersiapkan, bekerja keras bukan cuma sebatas melepas dari belenggu kemelaratan. Membesarkan, menyekolahkan anak-anak adalah sebuah Konsekuensi dan tanggung Jawab "bukan" Investasi Masa Tua, bukan pula tentang balas budi. Anak-anak akan punya kehidupan sendiri dan bebannya juga pasti tidak mudah, jadi saat kita MENUA, jangan memberi beban buat anak-anak kita. Kita harus tetap jadi Lilin buat Anak dan Cucu kita. Waktu muda, kita jangan MENUNDA kesenangan, tetapi harus terbiasa melatih membedakan KEINGINAN (WANT) dan KEBUTUHAN (NEED). Berharap saat "menua" nanti, kita tidak akan cemas dengan Saldo Terakhir ditabungan dan tak menyerahkan Nafas Financial ditangan anak-anak tercinta, karena Ibarat Menanam Pohon, benihnya sudah ditabur dan buahnya akan dipetik saat panen raya tiba. Saat kita "LAHIR MISKIN, ITU BUKAN KESALAHAN KITA, TAPI SAAT KITA "MATI MISKIN" ITU KESALAHAN KITA.ANAK-ANAK KITA BUKANLAH INVESTASI MASA TUA KITA, BUKAN PULA SEBAGAI AJANG BALAS BUDI, JANGAN MEMBERI BEBAN KEPADA MEREKA, KARENA ANAK-ANAK KITA KELAK JUGA AKAN MENGHADAPI KEHIDUPANNYA SENDIRI.


4 (empat) Tahap kehidupan Manusia




Tahap Kehidupan Manusia
Selamat Pagi sahabat-sahabat semua ......
Taukah Anda bahwa dalam kehidupan manusia sesungguhnya terdapat 4 Tahap kehidupan

Tahap Pertama, usia 0-20 tahun
Dimana Tahap ini terisi dengan masa bermain, sekolah, kuliah yang tentunya banyak dana yg di habiskan dalam Tahap ini, tapi masih merupakan tanggung jawab orang tua

Tahap Ke-dua, usia 21-40 tahun
Saat seseorang mulai masuk dunia kerja, dan sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup nya sendiri untuk sandang, pangan, papan, kendaraan pertama, rumah pertama, investasi pertama sudah mulai di miliki.

Tahap Ke-tiga, usia 41-60 tahun
Dalam Tahap ini, sebagian sudah lebih mapan, karena sudah di persiapkan saat di Tahap ke-dua kehidupannya, atau sebagian masih bekerja untuk memenuhi kehidupannya dan akan memasuki masa pensiunnya.

Tahap Ke-empat, usia 61-80 tahun
Tahap yang kita kembali seperti Tahap Pertama kehidupan, dimana masa ini kita memerlukan biaya hidup dan dana kesehatan yang tidak sedikit, yang dalam usia tersebut kita sudah tidak produktif lagi, namun sebagian kita masih harus membiayai kebutuhan hidup anak-anak kita yang masih berada di tahap pertama, yaitu kebutuhan tentang Biaya sekolah, kuliah yang tentunya banyak dana yg di habiskan dalam Tahap ini, tapi masih merupakan tanggung jawab kita, tapi tentu kita semua ingin tetap menjadi orang tua yang dapat memberi arti untuk anak cucu bukan untuk membebani nya.

Tentu perbedaan dapat terlihat bagi yang matang mempersiapkannya dengan baik dan terencana saat masih muda dan produktif dengan yg tidak mempersiapkan sama sekali.

Setelah seseorang menempuh pendidikan, yang terpikir kemudian adalah bekerja baik di sektor pemerintah maupun swasta agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun setelah direnungkan ternyata kebutuhan hidup begitu beraneka ragam dan terus berkembangan seiring perkembangan jaman.

Dari hasil survey yang dilakukan terhadap 10 orang yang sudah bekerja di usia muda (kurang dari 25 tahun), 3 diantaranya sudah memikirkan keadaan masa pensiun, dan 7 orang lainnya belum. Mereka semua sudah memiliki investasi berupa tabungan, tetapi tidak ditujukan untuk dana pensiun di masa tua.


Impian Semua orang ingin menikmati hari tua dengan BAHAGIA, dapat melakukan apapun yg kita inginkan dengan senang hati tanpa harus merasa membebani siapapun.

Sudahkah kita persiapkan masa tua bahagia dengan baik dan terencana dari sekarang?

Generali Indonesia siap membantu mewujudkan impian anda untuk menikmati hari tua dengan BAHAGIA. GENERALI INDONESIA memiliki fitur pengaman investasi sehingga mengurangi resiko kerugian dan memaksimalkan keuntungan nasabah.

For Consultant Please Contact Me :
Hendra Mayu Cipta
Bussines Consultan
082368356676
284ADFBC

Asuransi Penyakit Kritis?? Jangan Salah Kaprah 2

Jakarta -Menyambung dari dua tulisan sebelumnya tentang Critical Illness Insurance, sedikit mengulang bahwa ternyata banyak orang salah kaprah dengan asuransi jenis ini. Mereka berpikiran bahwa ketika mereka terkena penyakit-penyakit berat, seperti stroke, jantung ataupun kanker dan penyakit lainnya maka akan keluar sejumlah dana untuk meng-cover klaim dari penyakit tersebut.

Padahal dalam realitasnya ternyata banyak yang berbeda antara yang diperkirakan oleh nasabah dengan yang tertulis didalam polis.

Fakta di lapangan membuktikan bahwa untuk asuransi Critical Illness biasa, mayoritas asuransinya ternyata baru akan membayarkan klaim ketika seseorang terkena atau terdiagnosa penyakit-penyakit tersebut akan tetapi ketika kondisi dari penyakit tersebut sudah masuk stadium lanjut alias kritis.

Atau dengan kata lain, asuransi Critical Illness hanya membayarkan kalau seseorang terkena penyakit atau terdiagnosa dari suatu penyakit yang kondisinya sudah kritis (dalam hal ini stadium 4). Hal ini menyebabkan timbulnya banyak keluhan dari masyarakat.

Nah, menyadari kelemahan inilah kemudian perusahaan asuransi mengeluarkan produk asuransi tambahan (rider) Critical Illness baru yang disebut dengan Early Critical Illness atau disingkat jadi Early Critical saja.

Nah, dalam asuransi jenis inipun saat ini sudah mulai ditemui banyaknya keluhan dari masyarakat. Apa penyebabnya?

Lagi-lagi salah kaprah alias salah mengerti yang menyebabkan masyarakat salah ketika mengambil asuransi jenis ini. Kata-kata alias nama Early Critical Illness diterjemahkan dan dipersepsikan oleh banyak orang sebagai asuransi kritis yang membayar klaim ketika anda langsung terkena atau terdiagnosa penyakit dalam kondisi stadium awal, misalnya cancer stadium 1. Padahal ternyata sering terjadi kenyataannya tidak demikian.

Keluhan yang bisa dibaca di beberapa surat kabar dan media lainnya disebutkan bahwa ternyata klaim yang diajukan oleh nasabah tidak dibayarkan karena setelah dicek ternyata klaim akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dari produk Early Critical ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi alias harapan masyarakat yaitu stadium awal.

Perusahaan asuransi di dalam polisnya memang seakan-akan menyebutkan seperti itu, akan tetapi mereka memberikan terminology-terminology medis yang ternyata sering kali berbeda dengan terminology medis pada umumnya. Beberapa keluhan menyebutkan terminologi yang berbeda tersebut merugikan masyarakat.

Dengan kata lain, persepsi sebagian besar masyarakat terhadap produk ini akan “menolong” dan membayarkan klaim ketika terdiagnosa/teriindikasi di stadium awal (misalnya stadium 1), akan tetapi kenyataannya terminologi yang dipergunakan di dalam polis asuransi justru menunjukan bahwa itu terminologi untuk stadium 2 ataupun stadium 3 (setiap asuransi berbeda-beda).

Akibatnya bisa ditebak bahwa perbedaan terminologi antara medis dan apa yang disebutkan di dalam polis menyebabkan banyak nasabah tidak bisa mengajukan klaim pada perusahaan asuransi.

Sekali lagi, saya anjurkan untuk berhati-hati ketika membeli produk asuransi ini atau jenis apapun. Kata kuncinya terletak pada polis asuransi.

Oleh sebab itu pelajari polis asuransi Anda dengan baik dan seksama. Tanyakan secara detil apa saja yang akan di-cover dan apa saja yang tidak, seperti yang tercantum di dalam polis.

Apabila anda tidak setuju dengan pernyataan di polis, maka anda bisa membatalkan polis Anda atau menunda pembelian asuransi Anda. Jadilah nasabah yang cerdas dalam membeli produk keuangan sehingga tidak sampai terjadi penyesalan di kemudian hari.